[FANFICTION] Adapting Cinderella

Adapting Cinderella Poster

Adapting Cinderella

Cast : Jessica SNSD as Jess, Tiffany SNSD as Tiff

Genre : Fantasy, Sureal, Life

Rating : G

Length : Ficlet

Disclaimer! I just own the plot, the cast isn’t mine

Poster by astriadhima@pinkmonsterart

Sedikit karya untuk mengungkapkan isi hati mengenai Jessica dan kasusnya. Aku tetap berharap Girls’ Generation dengan formasi utuh.

Jess, it’s lil gift for you….

Garis yang telah Tuhan tuliskan hingga diujung ufuk, membentangkan takdir yang indah adanya.

            Mereka bilang datang ke gubuk peri adalah yang terbaik. Solusi atas penumpukan masalah yang kadang sangat malas untuk dihadapi. Mereka bilang dengan satu ayunan tongkat, masalahmu serasa lenyap dan kau akan bahagia. Apa mungkin? Mereka bilang seperti itu.

Waktu itu aku sedang melihat Tiff tengah menjahit ujung roknya yang robek. Menutupi lubang sebesar bola daging itu dengan secarik kain yang warnanya begitu mencolok. Aku tak mengerti mengapa selera fesyennya sedikit keluar dari jalur. Ia tak menyadari aku berada di ruangan yang sama dengannya. Baru setelah aku menginjak sendok –yang aku juga tidak tahu dari mana asalnya− berderit lalu memancing Tiff untuk melihatku. Tak kusangka ia malah memamerkan deretan giginya yang rapi. Tersenyum padaku seolah aku menyembunyikan hadiah ulang tahunnya. Ayolah ia sudah berulang tahun dua bulan yang lalu. “Hai Tiff!”

Rasanya aku ingin mengutuk diriku sendiri. Untuk apa aku menyapa seseorang yang hampir setiap waktu aku temui. Bahkan merk bedaknya pun aku hapal hingga tempat dia menaruhnya. Sial. Tiff melanjutkan kegiatannya, menjahit. Mengabaikanku tanpa memberi sepatah katapun. Kakiku beralih menuju meja dapur yang diatasnya terdapat jus lemon dingin. Aku menenggak cairan kuning itu seraya mengamati Tiff. Berjaga-jaga jika ia akan memberiku petuah. Biasanya ia selalu memberikanku sepenggal dua penggal ceramah. Entah itu tentang jerawat atau urusan bedak dan baju. Setidaknya ia pandai di bidang itu. Tapi, apa dia pandai di bidang masalahku juga ya? Terasa basa-basi. Aku berniat pergi.

“Belakang kandang kuda. Gubuk warna coklat. Ketuk tiga kali.”

“Hmmm…” Kutolehkan kepalaku saat tiba-tiba Tiff menyergapku dengan kata-katanya. Aku merengut, kata-katanya terlalu ilusi bagiku. “Apa kau bilang?”

“Kau ingin masalahmu selesai kan?” Tiff serasa sedikit jengah. Ia memperbaiki posisi duduknya beberapa kali. Jahitannya sudah selesai tapi ia masih sibuk dengan lubang yang ternyata masih banyak. “Tok tok. Kau bisa mengetuk kan? Tiga kali. Makhluk gendut itu tak suka yang lebih-lebih. Tapi jangan kurang. Kau mengerti kan maksudku?”

Merasa diacuhkan, Tiff berdiri. Matanya membulat dan berkaca-kaca. Ia masih menatapku yang hampir bingung setengah mati. “Peri itu ada?”

“Tentu ada, saudariku.”

~~~

Gubuk itu sedikit reyot dengan jaring laba-laba diujungnya. Agak kecil untuk tempat tinggal manusia. Tetapi cukup untuk makhluk sejenis kucing, kelinci dan sejenisnya. Mungkin muat hingga dua kepala keluarga. Bau kandang kuda serasa memborgol hidungku yang kembang kembis. Sangat menyengat. Aku menutup hidungku, lalu mendekati gubuk itu perlahan. Sesuai yang dikatakan Tiff, aku mengetuk pintu itu tiga kali.

Suara gedebuk dari arah dalam sedikit mengejutkanku. Aku mendekatkan telingaku sekedar mencuri dengar apa yang sedang terjadi. Hingga beberapa sekon berlalu tanpa ada reaksi yang pasti. Aku mulai resah hingga rasanya jariku ingin kukuliti sekarang juga.

Gemerisik dari batang pohon disebelah gubuk menggangguku. Telingaku yang masih menempel di pintu secara tiba-tiba menegak. “Halo! Kau mengetuk pintu rumahku.”

“Ru… Rumahmu?”

“Ya. Bahkan telingamu menempel di pintuku. Menjijikkan sekali.”

Makhluk gendut itu menyilangkan tangannya. Agak sedikit aneh melihatnya. Seperti seekor panda dengan bulu putih sempurna. Tingginya sekitar satu kaki, ekornya panjang dan dia berdiri tegak. Dibelakangnya terjuntai dua sayap tembus pandang yang melambai. Tangannya yang berwarna merah jambu menggenggam ranting dengan ujung rimbun. Aku sedikit geli. “Kau tinggal di pohon?”

“Tak peduli dimana aku tinggal nona. Apa yang kau mau?”

“Tidak ada.”

Aku mencoba berbalik. Berjalan menuju kandang kuda. Siapa yang akan menggantungkan hidupnya pada marmot bodoh seperti dia. Bahkan ia pun belum tentu bisa mencari makan sendiri. Mungkin ia akan mencuri kenari, atau jangan-jangan dia yang mencuri almond Tiff kemarin lusa. Sial.

“Tidak ada yang pulang dari gubukku dengan tangan kosong, nona.”

Seru makhluk kecil itu yang hanya terdengar seperti lolongan kucing kecil. Aku tetap mengabaikannya. Berjalan menuju pohon apel disebelah kandang kuda kami. Aku mencomot sebuah apel buncit dengan warna kemerahan lalu menggigitnya. Sepertinya marmot itu bercicit sesuka hatinya. Hentakan kakinya kecil menimbulkan gemerisik ribuk diatas pohon. Aku yakin ia sedang memakiku sekarang. Ternyata marmot banyak omong juga. “Apa yang kau mau, nona?”

Apel itu serasa busuk dilidahku. Mengingat memang begitu seharusnya ia tumbuh. Dengan batang oranye yang ukurannya tak lebih dari selebar jempol. Ia memang tak seharusnya berbuah bagus. Terlebih tanaman itu hidup disamping kandang kuda. Yang menjijikkan pula.

“Aku ingin bernyanyi di pesta pangeran.”

“Pulang jam 12 malam. Jangan lebih. Dan juga, aku bukan marmot, oke.”

~~~~

Pesta Pangeran di kerajaan nun jauh disana tinggal menunggu hitungan jam. Aku bergidik, membayangkan bagaimana riuhnya pesta serta gemerlapnya gaun putrid-putri. Aku selalu bermimpi berdansa dengan pangeran. Dengan gaun hijau laut yang menjuntai, serta mahkota kristal kecil menyasak sanggul. Menghentakkan kaki ke kanan dan kiri dengan pangeran tampan yang memegang pinggulku. Diiringi dengan dentuman orchestra yang membuat semua orang mabuk. Ayolah, semua wanita memimpikan itu. Bahkan anak tukang jahit sepertiku.

Tanganku masih menopang dagu ketika Tiff tiba-tiba memasuki kamar. Gaun sifonnya menari-nari membias sinar rembulan yang samar-samar di belakangnya. Ia memegang segelas susu lalu duduk di sofa bacaku. “Boleh aku meminjam sesuatu untuk dibaca?” Tanpa menunggu anggukan dariku ia langsung mengambil sebuah buku dengan mantel coklat di tumpukan atas. Aku hanya mengamatinya, meski hatiku bergemuruh karena ia mengambil buku yang belum sempat aku baca. Awas saja jika ia menumpahkan susunya. Aku akan memotong rambutnya, sungguh.

“Sudah ke gubuk itu?” Tanya Tiff yang sedang asyik menenggak susu. Aku sedikit lega karena ia belum membuka buku itu hingga susunya tanggal. Tiff memang tak tertarik dengan buku, berbanding terbalik dengan aku yang sangat maniak. Ia meletakkan gelas kosongnya diatas meja, lalu aku melihat dahinya berkerut saat membuka lembar pertama. “Aku sedikit terkejut keluarga kita memiliki makhluk seperti itu?”

Tiff terkikik. Entah karena kata-kataku atau gambar yang ada di buku yang menunjukkan gigi gadis-gadis yang diikat dengan kawat. Kebiasaan itu sedikit tren dikalangan bangsawan. Mereka mengawat giginya agar tumbuh baik. Yang aku kira sangat merepotkan menyimpan barang seperti itu didalam mulut. “Dia memang menyebalkan. Tapi tak ada yang tak berhasil.”

Aku kembali menatap jendela. Tetap bertopang dagu dan menghembuskan nafas kecil. Uapnya membentur kaca jendela menimbulkan lingakaran buram. Mengesampingkan Tiff yang mulai kegirangan, aku malah menatap ujung bukit yang ada disana. Tempat menara dengan gemerlap lampu yang menaungi seorang Pangeran di dalamnya.

How lovely it would be
if I could live in my fantasy
But in the middle of my dreaming
they’re screaming
at me
Cinderella

 

“Apa yang dia bilang?” Aku mendengar suara berdebum yang aku anggap sebagai pelemparan buku oleh Tiff. Tanpa membalikkan wajahku aku menjawab dengan seadanya. “Aku bisa pergi. Hingga jam 12.”

“Pergi saja.”

“Kau gila!”

“Jess…”

“Maafkan aku, aku sedikit tempramen akhir-akhir ini. Maksudku, siapa yang akan percaya pada makhluk seperti itu. Lagipula, jarak bangunan kita sangat jauh dengan istana pangeran.”

Aku merasakan tangan Tiff melingkar di pinggangku. Rambutnya jatuh dibahuku yang menimbulkan rasa geli. Ia mengatur napas sebelum berbicara lagi. “Coba saja. Tak ada yang tidak mungkin selama kau masih percaya.”

~~~

Aku mendatangi gubuk itu lagi. Mengeratkan mantelku demi mengusir hawa dingin. Bau kandang hampir tak tercium, terganti dengan dingin yang menggigit tulang. Suaranya lebih sunyi dan menenggelamkan. Sangat damai.

Gubuk itu diterangi dua obor kecil yang meliat. Menerangi pintunya yang terlihat sangat menawan. Saat aku mendekatinya terdengar nyanyian yang mirip lolongan kucing. Aku bergidik.

Belum sempat aku mengetuk pintu, seperti kali sebelumnya. Makhluk kecil itu muncul dari balik dahan. Sayapnya berubah terang seperti nyala lilin. Disampingnya kunang menari-nari dan terangnya membentur pipiku yang memucat. “Hai!” Sapaku dengan mengangkat tangan. Diterangi cahaya kunang-kunang aku bisa melihat ujung moncongnya mengerut, merasa aneh mungkin.

“Senang bertemu denganmu lagi.” Balasnya. Aku hanya mengangguk. Tanganku tersimpan di dalam kaku yang sebenarnya gemetar karena gugup. “Sebenarnya…”

“Lepas mantelmu.” Perintah makhluk itu dengan mengacungkan dahan yang aku lihat tempo hari. “Dilepas? Dengan suasana sedingin ini?”

“Kau tidak ingin ke pesta pangeran memakai mantel kan?”

Aku bergidik membayangkan bagaimana dinginnya malam menguliti tulangku. Mantel itu kutanggalkan perlahan, menyisakan gaun tidurku yang anehnya tak merasa dingin sama sekali. Dahan itu teracung padaku lalu menyemburkan sinar biru ke arahku. Kristal es serasa menjalari lenganku hingga ke tulang. Sengatan kecil timbul tenggelam dalam otakku.

“Ada satu syarat untuk mengabulkan permintaanmu. Tidak hanya padamu saja, semua yang meminta padaku harus mengorbankan sesuatu.” Aku hanya mengangguk saat makhluk itu berbicara.Tanpa peduli apa intinya, bahkan aku hanya berkonsentrasi pada juluran es yang semakin nyaman di tulangku.

“Kau tidak bisa kembali. Kau akan hidup sebagai Jess yang baru. Jess sebagai penyanyi kerajaan, bukan Jess anak seorang penjahit di di ujung pasar.”

Aku ingin membuka mataku dan berteriak. Tetapi kenyamanan yang semakin aku sukai malah membuatku semakin tenggelam. Mungkin aku sudah mengangguk karena sengatan es itu semakin meledak di dalam paru-paruku.

~~~

Seseorang menepuk pundakku yang membuat aku sedikit terperanjat. Agak aneh melihatnya, seorang wanita dengan gaun bordiran hangat menyapaku. Ia mengulurkan sebuah topeng ke arahku. Aku sedikit bingung tetapi aku tetap menerimanya. Topeng yang sering aku lihat di sirkus-sirkus itu gemerlap di terpa cahaya obor. Wanita tadi –yang memberiku toprng− tersenyum lembut. “Giliranmu sepuluh menit lagi.”

Dahiku berkerut. Mempertanyakan apa yang barusan ia lontarkan. “Giliran?”

“Tak usah berlaku begitu. Apa yang akan kau nyanyikan?” Ia berjalan menuju sebuah meja yang diatasnya terdapat banyak bedak dan hiasan warna-warni. Ia memoleskan sebuah bubuk dengan spons. Tunggu, aku bernyanyi?

“Aku ada di istana?”

~~~

Suara riuh semua orang mebuat nyaliku semakin menciut. Sebelumnya aku tak pernah merasakan seperti ini. Saat aku bernyanyi di atas sebuah kotak di pasar, hanya beberapa penjual sayur serta kain yang melihat aku bernyanyi. Tanpa menimbukan desiran aneh seperti ini tentunya. Tempat aku berdiri ditutupi dengan sebuah tirai merah yang tebal. Dibaliknya semua yang hadir dalam pesta sedang bersorak menungguku tampil. Yang pastinya seorang pangeran pula. Aku tersenyum, mungkin saja pangeran menungguku kan.

Aku ingat bagaimana aku mengakhiri pertunjukan kecil pertamaku. Dulu aku pernah bernyanyi di sebuah pesta ulang tahun anak saudagar. Gadis kecil itu mengaguni suaraku lalu ia mengundangku untuk bernyanyi di ulang tahunnya. Aku bernyanyi sepenuh hati meski hanya dibayar sepotong kue kenari yang sedikit lembek. Aku sangat menyukainya. Aku ingat setelah aku bernyanyi, aku memeluk saudara tiriku. Yang namanya… Eum, Ti. Aku sedikit lupa.

Tirai tertarik ke atas, sinar obor menerangi sepatuku yang berwarna putih dengan rumbai biru cerah. Tirai semakin ke atas hingga menampakkan seluruh tubuhku yang dibalut gaun biru laut yang sangat menawan. Beberapa yang hadir mengacungkan gelas minamnnya ke arahku Yang lain, putri-putri bergaun sutra yang mewah bersorak ke arahku. Aku berjalan ke tengah-tengah mereka. Menggenggam tanganku yang mulai basah. Aku melirik kea rah sebuah tempatyang terletak sebuah singgahsana besar. Dua orang yang mungkin saja raja dan ratu, terlihat dari gaun serta mahkota yang ia pakai. Aku menyentuh sanggulku yang ternyata terselip sebuah mahkota kecil berhiaskan kristal. Aku merasa senang akan ini, meski aku sendiri tidak yakin apa aku menyukai mahkota kristal sebelumnya. Tak ada seseorang lain yang menarik minatku. Termasuk sang pangeran yang sampai kini belum aku lihat batang hidungnya.

Cinderella, Cinderella
All I hear is Cinderella, from the moment I get up
till shades of night are falling
There isn’t any letup, I hear them calling, calling
Go up and do the attic and go down and do the cellar, you can do them
both together
“Cinderella.”

How lovely it would be
if I could live in my fantasy
But in the middle of my dreaming
they’re screaming
at me
Cinderella

Musik berhenti tiba-tiba. Ditengah aku menyanyi yang hampir membuat liurku mencuat. Seseorang dengan setelan yang sangat mewah berjalan ke tengah pengunjung. Ke arahku. Pangeran, mungkin.

Aku hampir saja menunduk dan mengangkat ujung gaunku sebelum seorang gadis cantik melingkarkan lengannya ke tangan pangeran. Darahku berdesir, aku tak tahu mengapa. Semua hadirin hening. “Terima kasih sudah bernyanyi di pestaku. Kau boleh pergi.” Lelaki yang ku duga pangeran itu berkata ke padaku. Tanpa melepas lilitan tangannya yang membuatku muak, ia mengayunkan tangannya. Menyuruhku pergi.

Jantungku serasa bergolak. Diguncang dengan jutaan ton batu berujung runcing. Aku sedang bernyanyi dan dia menyurhku berhenti. Bahkan aku belum menghabiskan hingga satu refrain. Dua orang gadis dengan gaun yang sederhana berjalan kearahku. Tangannya terulur seolah menyuruhku untuk ikut. Para hadirin mulai sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak menghiraukanku yang beberapa menit yang lalu sangat mereka tunggu. Aku berjalan menurut dua orang gadis tadi. Aku membalik wajahku, lamat-lamat melihat Pangeran yang sedang berdansa dengan wanitanya. Menimbulkan riak kecewa dalam genangan hatiku. Inikah yang selama ini aku inginkan.

“Kau boleh melepas gaunmu dan kembali ke dapur.” Seru salah satu dari kedua gadis tadi. “Ya?” kataku yang memancing mereka untuk mengulangi perkataannya kembali. “Tugasmu sudah selesai.” Katanya.

“Siapa diriku disini?” Aku menarik tangan salah satu gadis tadi. Ia menatapku dengan tatapan bingung. Hendak menampik pertanyaanku, aku mengeratkan pegangan tanganku. “Kau itu pembantu, nona.”

Beberapa kali mataku menerjam. Mencerna kata-kata yang seperti bom meledak secara tiba-tiba. Tanganku terlepas dan kedua gadis tadi meninggalkanku. “Berterima kasihlah padaku yang memungutmu dari ujung pasar. Bahkan aku tidak yakin kau punya rumah dan keluarga sebelumnya.”

Napasku serasa berhenti. Apa? Dipungut? Tidak. Aku punya keluarga sebelumnya. Dulu aku memang tinggal di pasar. Tinggal disebuah bangunan yang aku rasa menyimpan beberapa mesin jahit didalamnya. Juga seorang saudara tiri yang seumuran denganku. Aku lupa namanya, tapi aku punya. Aku tidak tinggal sebagai gelandangan. Aku punya keluarga. Bagaimana aku bisa kesini?

“Apa kau hanya akan berdiam diri disitu sepanjang hari, Jessi?” suara yang berasal dari salah satu gadis tadi kurasa. Menggema dari ujung lorong hingga ke telingaku. Jessi? Aku menggeleng dengan beberapa ingatanku yang sepertinya menguap. Jessi, seorang pelayan istana yang ditunjuk untuk bernyanyi di pesta pangeran. Tidak lebih, aku tidak ditakdirkan untuk berdansa dengan pangeran. Aku sering bermimpi sebagai anak saudagar atau penjahit di pasar. Hidup tenang dengan saudara lalu bertukar pakaian dan cerita. Aku ingin seperti itu. Menjadikan mimpiku nyata dengan datang ke seorang peri. Aku pernah mendengar salah seorang pelayan menggunjingkan peri gubuk saat mereka memotong wortel. Sayangnya aku tak percaya peri. Dan aku harus menerima nasibku ini. Yang ditakdirkan Tuhan untuk ku jalani. Layaknya Cinderella, aku hanya bisa bermimpi untuk datang ke pesta dansa pangeran dan menjerat hatinya. Omong kosong.

            Jam istana berbunyi dengan lantang 00.00

 

Leave Your Review Here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s