[FANFICTION] Die, Hyung!

BwXe7IUCIAAv2TZ.jpg large

Tittle : Die, Hyung !

Cast : Chanyeol, Baekhyun of EXO

Length : Ficlet

Genre : Friendship, Life, Angst

Disc : I just own the plot of the story. The cast is belong to God, i don’t own anything. For the image, i just found it in Google. Credit goes to Puppystore. Thank you for da awesome images >.<

©astriadhima2014

Kau bilang kau akan pulang

Aku terus memandangi fotomu. Foto yang diambil ketika kau masuk sekolah menengah atas pertamamu. Waktu itu celanamu terlalu pendek, juga robek di paha bagian kiri. Kau mendapatkannya dari loak Chongnam, yang membuatmu tak bisa tidur semalam suntuk. Hari pertamamu kau habiskan dengan berkenalan dan mengobrol dengan banyak siswa. Katamu ada salah seorang siswa yang menurutmu cantik. matanya bulat dan rambutnya coklat. Sayang sekali, waktu itu aku masih sekolah dasar hingga aku lupa siapa namanya. Fotomu diambil sepulang sekolah. Katamu foto itu untuk mengisi jurnal siswa. Tapi nyatanya kau merobek foto itu dan kau berikan padaku. Kita memang terlalu miskin hingga tidak bisa mencetak foto kita sendiri. Yang sangat aku sesali.

Tapi sudahlah. Aku tak terlalu mempermasalahkannya. Pikiranku semakin berkecamuk saat membayangkanmu. Bagaimana kau membawa pistol, di bagian mana kau berdiri dan siapa orang yang akan melindungimu. Hanya membayangkannya saja suara granat dan tembakan seperti menggema di dasar gendang telingaku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya itu. Aku menutup mata.

Aku ingin memberitahumu. Sekarang beranda rumah kita sepi. Ayah dan ibu sudah raib. Mereka diculik. Waktu itu aku baru pulang dari pasar, saat aku menginjakkan kaki di rumah, semua perabotan porak-poranda. Rumah kita kosong dan orang tua kita menghilang. Aku masih ingat bagaimana aku menjatuhkan keranjang sayur ku saat itu. Tak ada lagi omelan ibu yang selalu menyuruhku mencuci baju, atau guyonan Ayah yang membuatku terbahak hingga terguling-guling. Aku merindukan saat Ayah menepuk pantat kita saat ia memulai ocehan mengenai Si Bodoh Ondal. Katanya aku seperti Ondal, yang tolol dan tak berharga. Aku membela, toh Ondal juga pangeran kan. Ia hanya bersembunyi. Lalu Ayah memukul pantatku.

Aku merindukannya.

Satu-satunya barang yang bisa mengingatkanku akan baumu adalah piyama yang ada disampingku. Piyama yang kau pakai sebelum kau dipanggil untuk tugas negara. Kau tergesa-gesa waktu itu hingga kau melemparkan piyama itu disamping kasur. Kau langsung bergegas pergi dan menepuk pipiku. Katamu kau akan pulang. Aku juga yakin akan itu. Aku melihatmu melewati pintu rumah dan menghilang di belokan. Air mataku menetes, aku juga tak mengerti. Perang ini sangat besar, perang perebutan antara merdeka atau dijajah. Aku sangat bangga kau berdiri di barisan pembela. Tetapi disisi lain aku juga takut, takut jika aku harus mengorbankanmu. Kurasa itu alasan aku menghawatirkanmu.

Aku meraih piyamamu. Menempelkannya ditubuhku. Bau mu yang mirip aroma kayu pinus menggeitik hidungku. Aku memejamkan mata. Dalam mataku kau menari-nari. Dengan senyumanmu yang kekanakan dan wajahmu yang tak berdosa. Kau memukulku setelahnya. Aku tersenyum. Tapi dalam bayanganku yang lain, kau kesakitan. Sebuah peluru bersarang di dadamu. Banyak tentara lain yang ada disampingmu. mereka khawatir dan mencemaskan keadaanmu. Darahmu mengucur deras membasahi tangan dan pistolmu. Aku mengernyit ngeri.

Dengan sekuat tenaga aku mengusir khayalan itu. Khayalan yang membuatku ingin muntah sekarang juga. Aku menikmati khalanku tentangmu yang menari-nari. Sangat menggembirakan bagiku. Aku tak sabar menunggumu pulang.

“Merdeka! Merdeka!”

Mataku membelalak. Bergegas aku keluar dari rumah. Kerumunan orang mulai bersorak dan berteriak. mereka saling berpelukan. Menangis dan tertawa secara bersamaan. Mataku menjadi berkabut. Tanganku sibuk menggapai orang-orang yang ku kira dirimu. Sayangnya tak ada seorangpun yang berbaju tentara. Penuh dengan Hanbok yang lusuh. Gerakanku limbung dan air mata itu sudah meleleh di pipiku. Aku tak tahu harus ikut tertawa dengan paman itu atau menangis seperti bibi yang ada disebelahku. Aku hanya butuh menyapamu. Menanyai kabarmu apa kau baik-baik saja. Aku mulai berteriak memanggilmu. “Hyung! Hyung!”

Seorang paman dengan muka lusuh menghampiriku. Setelah ia tertawa-tawa dan berteriak merdeka, ia malah menangis ke arahku. Menepuk bahuku keras hingga aku hampir terjungkal. Mungkin hanya aku saja yang terlalu lemah. Ia tersedu-sedu dihadapanku, yang kuarasa malah seperti dibuat-buat.

“Kita sudah merdeka, Nak. Jasa kakakmu sungguh berharga. Semoga ia diterima disisih-Nya.”

Diriku terpaku. membisu ditengah riuh orang-orang yang saling tumpang tindih. Kudekatkan wajahku ke arah paman itu, membujuknya untuk mengulangi kalimat yang baru saja ia layangkan. Kau mati? Tidak mungkin. Paman ini bohong kan

Sekarang giliranku menepuk punggung paman itu. Yang aku niati sebagai pukulan. Paman itu tetap tersedu. Ia terus merapalkan doa yang ditujukan padamu. Aku tak percaya. Tanganku menangkup kedua mataku yang basah. Aku jatuh terduduk. Dunia serasa tidak adil bagiku. Sekarang negara kami merdeka tetapi disisi lain hatiku berteriak di bawah penderitaan. Aku harus bagaimana. Menikmati kemerdekaan yang kau berikan atau menangisi kepergianmu untuk memerdekakan negara ini.

“Baekhyun Hyung, pulanglah.”

15 Agustus 1948

Leave Your Review Here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s