[FANFICTION] Because I’m And Idol

a lil project for mini comeback..

 

Poster FF Because I'm an Idol

Tittle: Because I’m An Idol | Author: astriadhima| Genre: Romance, Fluff | Cast: Kim Myungsoo, Park Jiyeon | Length : Ficlet ( 1300 word+) | Rating: Teen

Disclaim : Plot is mine, but the caracters not

©astriadhima

When I missed my home…..

Lagi-lagi aku harus pulang malam. Menyelesaikan 5 acara tivi sekaligus dalam satu hari sudah seperti roti selai bagiku. Setiap hari aku harus melakukannya. Pukul 9 pagi aku harus mengisi acara pagi, siang hingga malam ke acara music yang menuntut tenggorokanku berteriak. Ouh, aku ingin segera mengakhiri semua ini. Aku merebahkan diri ke sebuah sofa berwarna merah marun di samping meja rias. Sambil bertumpu pada lengan, mataku terpejam. Merasakan urat-urat yang mulai mengejang dan kaku. Terkadang aku ingin menjadi pemuda pada umumnya. Kuliah dan bekerja sampingan di studio pemotretan, sesekali saat akhir pekan duduk di taman dengan seorang wanita. Jika dulu aku tak mengikuti audisi bodoh itu, mungkin aku sedang duduk di bangku taman sekarang. Sayangnya itu hanya mimpi. Oase ditengah gurun. Mustahil.

“Kim Myungsoo..”

Seseorang memanggilku yang kukira itu Kangjun, managerku. Pelan-pelan kuangkat kelopak mataku hingga aku melihat langit-langit yang terlihat pucat. Aku mendengus “Ada apa?”

Dia −Kangjun− menatapku dengan kasihan. Bola matanya membesar, “Maaf menggangu istirahatmu. Aku hanya ingin memberitahu ini. Besok kita hanya punya satu jadwal.” Katanya sembari menyodoriku sebuah map. Aku tersentak dan terbangun dari duduk. Aku menatapnya dengan was-was. “Benarkah?”

Joon mengangguk dengan lemas. Ia kembali menyodoriku map yang sedari tadi belum aku sentuh. Aku terlonjak histeris. Aku berteriak hingga ujung kakiku terantuk ujung meja. Aku meringis merasa ujung ariku membiru. Wajar kan bila aku senang. “Jam berapa?” Aku menyambar map itu. Membalik halamannya yang kira-kira berjumlah sepuluh. Rentetan huruf itu hanya ilusi bagiku. Melewati kedua irisku tanpa tahu maknanya. Yang terpenting besok aku tak harus pulang malam lagi. Setidaknya aku masih punya waktu. Punya waktu untuk menelponnya. Pipiku bersemu.

“Jam Sembilan. Hanya siaran radio. Kau hanya berbincang lalu menyanyikan 2 lagu, satu lagumu dan satu lagi lagu pilihanmu.” Jelas Kangjun. Dia duduk di sebelahku. Tangannya sibuk mencari sesuatu di sebuah tas. Aku sedikit berpikir. “Lagu pilihan? Ada yang special?” Aku berkata dengan nada mencibir yang langsung dibalas tatapan tajam dari Kangjun. “Mungkin mereka sudah bosan dengan lagumu. Jadi mereka memintamu menyanyikan lagu lain.”Jawaban Kangjun tak kalah ketusnya. Ia bangkit kearah meja rias sebelum beralih ke pintu. Hendak pergi.

“Boleh aku menyanyikan lagu sesukaku?”

“Silahkan saja.” Kangjun mengangguk lalu pergi.

***

            Udara di ruangan itu terasa sesak. Entah karena pendingin ruangannya yang tak berfungsi atau suasana hatiku yang menggebu. Dadaku serasa panas. Penuh dengan tekanan akan hari libur. Jarang sekali ada hari seperti ini, terutama saat masa comeback . Aku memelintir jariku sambil menunggu Radio DJ itu berbicara. Selama jeda musik ia sibuk melihat jadwalnya. Sesekali ia membuka dan menutup mulut untuk melatih otot mulutnya. Tanpa memperhatikanku tentu saja. Tiba setelah jingle radio mereka menguar, DJ itu menegakkan wajahnya dan mulai berbicara panjang lebar didepan mikrofon.

Aku memperhatikan dengan seksama. Sambil melonggarkan dan mengecilkan volume headset yang kupakai, kepalaku mengangguk mengiyakan saat dia mengatakan Comeback yang memukau. Entah untukku atau tidak. Aku mulai bertepuk tangan dan membungkuk saat dia menyebutkan namaku. “Kim Myungsoo.” Aku sendiri bingung kenapa aku menunduk di ruangan yang hanya berisi empat orang ini. Toh penggemarku yang ada di luar sana tak bisa melihatku, kecuali jika DJ itu menyebutkanku sedang menunduk sekarang. Aku terlalu senang sehingga aku tak terlalu memikirkan ini.

“Apa arti dari lagumu ini? Apa kau merindukan seorang wanita?” DJ itu mulai bertanya padaku. Meski jelas-jelas ia tak melihatku, karena dia sudah melihat jadwal kembali, aku tetap menjawabnya dengan serius. “Lagu ini bercerita tentang seorang lelaki yang sangat merindukan rumahnya. Ia ingin segera pulang untuk menemui kekasihnya. Rumah disini juga bisa diartikan Cinta. Tempat untuk pulang dan bahagia. Jadi aku memberi judul When I Missed My Home.”

Rambut DJ itu bergoyang saat dia mengangguk. Ia menegakkan kepala lagi dan tersenyum padaku. “Jadi kau menciptakan lagumu sendiri?” Aku langsung mengiyakan pertanyaan itu. Aku membenahi dudukku kearah yang lebih nyaman. “Kurasa ini pengalaman pribadiku. Terlalu sayang untuk tidak diabadikan.”

Beberapa pertanyaan sudah kujawab dengan panjang lebar. Aku merasa butuh menghirup udara banyak untuk mengisi paru-paruku yang kosong. Kini tiba saatnya aku bernyanyi. Menyanyikan lagu When I Missed My Home dengan perasaan yang terbakar. Aku suka bernyanyi seperti ini. Saat suasana hatiku sedang senang dan perasaanku yang mulai menggebu. Setidaknya tidak ada nada tinggi yang dibuat-buat. Itu seperti jeritan perasaanku sekarang. Tiba saat lagu terakhir. DJ menanyaiku perihal lagu yang akan kunyanyikan. Aku mengangguk kemudian menempatkan mikrofonku sedikit mendekat. “Aku ingin menyanyikan satu lagu yang sedang menggambarkan suasana ku saat ini. I Don’t Want To Be An Idol. Untuk seseorang yang menungguku.” Beberapa sekon kemudian intro mengalun dan aku mulai bernyanyi. Dengan segenap perasaanku.

Because I’m an idol, because I’m a celebrity

I can’t hold your hand when we walk but

When I become more famous, when I become more confident

I will give you all the love I couldn’t give you now

I’ll do everything for you, I’ll give you everything

This song is for you – I love you

 

***

            Dadaku terasa terbakar lagi saat aku duduk di bangku taman yang menghangat. Aku menempelkan ujung jariku di salah satu ujung bangku yang mulai berkarat. Aku melihat sedikit noda menguning diujung jariku yang beraroma besi. Aku mengusap pinggiran bangkunya. Secuil kegiatan untuk mengusir tekanan dalam diriku yang sedikit keluar dari batas.

Seorang anak kecil memelototiku saat aku mencoba menulis sebuah kata diatas tanah. Es krim ditangannya mulai menetes hingga ke tangannya. Saat aku mengawasi, ia buru-buru menjilat tetesannya. Aku cekikikan dan anak kecil itu berlari. Saat aku ingin mengukir huruf O, terdengar suara teriakan dan tangisan. Aku yakin anak itu telah menjatuhkan es krimnya. Kasihan.

Tepukan hangat mendarat di bahuku. Sebelum sempat aku menoleh, seseorang yang menepukku tadi menangkupkan kedua tangannya menutupi mataku. Lelucon klasik. Dengan suara yang dibuat-buat, ia bertanya siapa dirinya. Bibirku tertarik, membentuk cekungan yang indah. Ku rasa begitu. Aku memegang kedua tangannya. Sengatan yang hangat ini sudah lama tidak aku rasakan. Aku rindu bagaimana hatiku terlonjak saat melihatnya, ataupun seluruh kekuatanku merosot saat dia tersenyum. Aku rindu saat-saat itu. Ia merengek saat aku tak kunjung menyebutkan namanya. “Bagaimana bisa aku tahu namamu jika aku tak bisa melihatmu?”

Kedua tangannya terbuka dan ia memukulku. “Myungsoo.” Ia berteriak. Aku melihatnya dengan ekspresi kesal. Bibirnya yang mengerucut dan rambutnya yang bergoyang, membuatku lupa. Lupa bahwa aku seorang idola yang harus menjaga privasinya. “Jiyeon.” Gadis itu tersenyum saat aku menyebutkan namanya.

Jiyeon berjongkok didepanku saat aku mengukir gambar rumah diatas tanah. Disamping namaku aku membuat gambar rumah juga sebuah taman. Beberapa kali Jiyeon menelengkan kepalanya, meresapi garis-garis tanah yang kubuat. “Kemarin aku mendengar lagumu.” Tiba-tiba ia berkata. Aku hanya mengangguk kemudian menggambar sebuah bunga yang ku kira itu mawar. Kurasa malah terlihat seperti bunga matahari. “Kenapa kau memilih lagu itu? Apa tidak masalah?”

Aku berhenti di garis terakhir. Mendengar kata-katanya, batang mawarku seperti terpotong. “Tentu saja tidak.”

“Bagaimana dengan fansmu?” semburnya lagi. Ia mengambil sebuah ranting disampingnya. Memulai menggambar beberapa garis yang menuju gambarku. Lidahnya terjulur saat ia menarik garis ke ujung pintu rumahku. “Ada kalanya fans harus menerima keputusanku.”

“Apa itu tidak menyakiti mereka?” Sembur Jiyeon lagi. Aku tak bisa berkata-kata jika ia menjejaliku dengan pertanyaan seperti ini. Aku melipat tangan. Mengawasinya membentuk gambar-gambar lucu di depan gambar rumahku. “Mereka harus menerima keputusanku. Meskipun itu sangat sakit.” Aku memilih kata-kataku untuk tidak menyinggungnya. Bagaimanapun juga, fans dan pekerjaan lah yang mebuat kami seperti membuat jarak. Tetapi aku bersyukur Jiyeon dapat menerimanya.

“Bagaimana jika aku fansmu? Apa yang aku rasakan sekarang?” Hatiku mencelos saat Jiyeon menanyakannya. Ia tetap fokus pada gambarannya. Aku merasa bingung harus mengatakan apa. Aku menarik napas kemudian membentuk huruf J I Y E O N disebelah namaku. “Jika aku bisa, aku akan berhenti menjadi idola dan menemui Jiyeonku yang ini. Tetapi aku tidak bisa, karena banyak Jiyeon-ku disana yang juga menungguku. Jiyeon yang disini dan Jiyeonku yang disana menunggu untuk hati yang sama. Aku mencintai kedua Jiyeonku.”

Jiyeon sedikit kaget. Goresan terakhirnya malah mirip ranting patah. Ia menatapku sambil membekap mulutnya. Saat mendapati ekspresiku bingung, ia tergelak. Tawa renyahnya membuatku sedikit bingung. Ia menepuk bahuku sambil berkata. “Jadilah idola yang baik untuk Jiyeon-Jiyeonmu, sayang.”

End.

Pffttt~ yo yo yo akhirnya kesampean juga ya buat kambek. Gak kerasa udah 1 bulan lebih kayaknya aku gak ngepost ff apapun. Akhirnya setelah 1 bulan berkutat dengan Writer’s Block di bulan Agustus yang rame (?) bisa juga bangkit dari alam gelap. Wedeh.

Masih belom bisa ngasih ff yang panjang soalnya ide lagi keputus sama tugas. Jadi ya mini-mini ga papa lah ya yang penting kambek. Berharap masih ada yang baca ff ini. Jujur loh ini ff fluff pertama aku. Aku sih lebih ke Dark is my style, berhubung aku lagi seneng dan termotivasi masa mood dibikin down lagi sama ff yang berdarah-darah. Biar nambah seneng kan dikasih yang fluff2 gini. Eak.

Belum bisa berpaling dari Jiyeon sih. Tapi akhir-akhir ini jadi stalker dadakannya Red Velvet. Terutama si Ailin Sungkar yang mukanya maknae tapi umur leader. Oh iya sedikit info, kalo ada yang mau jadi admin, author atau artworker di Red Velvet fanfiction bisa mention aku, URLnya ada di atas di kolom author. Siapa tau tertarik ya. Eh malah promosi yyak.

Yaudah, Selamat comeback dan selamat membaca😀

Leave Your Review Here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s