[FANFICTION] Love Story

Title                      : Love Story

Author                 : Astria Dhima a.k.a ^Yoontaro^

Genre                    : Romance

Main Cast            : Im YoonA a.k.a YoonA

Kim Myungsoo a.k.a Myung/L

Other Cast          :  Sunggyu

Length                 :  Oneshoot

OST                        : Jay Park – JOAH

“LOVE STORY”

Love Story Im Yoona Kim Myungsoo

*L POV

“Ada apa dengan kameraku ini, padahal lensanya sudah kubersihkan” kataku sambil membenarkan serta membersihkan lensa kamera. Kamera ini telah menjadi saksi karirku selama 2 tahun ini, aku tak ingin membeli yang baru aku merasa  kamera ini memiliki nyawa, tegakah aku meninggalkannya. Terik matahari yang mulai meninggi tak mengurungkan niatku untuk tetap memotret. Perusahaan sedang menugaskanku memotret aktivitas Pulau Jeju. Drett  … drett. ditengah aktivitasku tiba-tiba ponselku borgetar. Kuangkat dengan tanganku sebelah kiri karena tangan kananku menggenggam kamera.

“Tak bisakah orang ini tidak mengganggu lagi” gerutuku saat mengetahui SMS yang kuterima ini dari Bibiku. Aku tak pernah mengenal orang tuaku semenjak usiaku 5 tahun, aku hidup dengan teman-temanku yang sampai saat ini ku anggap kakak. Mungkin itulah sebabnya aku tak pernah menyukai orang tua yang mengaku orang tuaku mungkin hatiku sudah terlanjur kelu.

“Hey kenapa kau murung. Kau mau ini?” kata Sunggyu menghampiriku sambil menyerahkan minuman soda.

“Terima kasih untuk ini” kataku sambil mengangkat kaleng soda yang ia beri tadi. Aku hanya tersenyum dan tidak berniat meminumnya.

“Apa cuaca secerah ini kau tak ingin pergi jalan-jalan?” tanyanya sambil sesekali meneguk minumannya.

“Aku tidak tahu, rasanya belum ada sesuatu yang bisa difoto” kataku dengan sedikit senyuman.

“Paboya, kenapa otakmu hanya penuh dengan foto” teriaknya sambil menjitakku.

“Ahh” aku hanya merintih pelan.

“Apa kau tak ingin melihat wanita?” tambahnya, kali ini suaranya sedikit pelan sehingga aku harus mencondongkan tubuhku mendekatinya.

“Maksud Hyung apa?” kataku polos, namun ia malah memasang muka kecewa sepertinya kata-kataku menyinggung suasana hatinya.

“Ah itu, ehm baiklah” kataku cepat. Aku tak tau apa yang kukatakan aku hanya tak ingin ia kecewa.

“Ehm begini, kau tunggu saja di taman depan hotel aku ingin bersiap-siap dulu. Ingat ya, tunggu aku. Aku tak mengenal siapapun disini. Ingat kataku, tunggu aku. Oke” katanya dengan kedipan yang sedikit mencurigakan. Terserah sajalah yang penting kau senang, pikirku.

30 min again

Kulirik lagi jam tanganku, sudah jam 2 siang tapi Hyung belum juga muncul. Hampir satu setengah jam aku menunggunya, apa dia hanya membohongiku tapi ekspresinya tak seperti orang yang sedang bercanda. Mungkin sebentar lagi perintahku pada diriku sendiri. Kurebahkan tubuhku di bangku taman yang bercat putih bersih dengan dikelilingi bunga mawar merah dan putih yang tertanam rapi.

*L POV End

*YoonA POV

“Ini kunci kamarmu, kamarmu nomor 107.” Kata Tuan Kim sambil menyerahkan kunci kamar padaku, setelah itu ia langsung pergi. Aku tak ingin istirahat saat ini, meskipun aku menempuh 8 jam perjalan di pesawat tapi aku tak merasa lelah.

“Aku jalan-jalan dulu saja” kataku sambil meninggalkan hotel. Pemandangan pertama yang kulihat adalah taman yang ada tepat disebelah kanan hotel. Bunganya yang bermekaran tak sengaja memancingku untuk tersenyum. Tanpa basa-basi aku langsung berjalan ke taman itu.

*YoonA POV End

*L POV

Klik … klik… klik suara kameraku merekam gambar yang menyegarkan ini. Hamparan bunga yang indah membuat segar siapapun yang melihatnya. Kesempatan sebagus ini saying sekali jika dilewatkan. Aku tersenyum sendiri melihat hasilnya yang menakjubkan, tanpa edit-edit lagi ini sudah cukup.

Aku beranjak ke hamparan mawar putih. Teriknya matahari tak menyurutkan keindahannya, warnanya yang putih bersih sangat indah. Sambil tersenyum girang aku memotretnya. Di jepretan yang ke 9 aku terhenti saat menyadari ada seorang wanita diseberangku. Tepat didepanku, dia tersenyum melihat mawar ini. Senyumnya sangat indah, tanganku kaku memgangi kameraku. Aku hanya terdiam dengan kamera yang terhadap pada wanita itu seakan ingin memotret tetapi tidak bisa. Entah ia menyadari kehadiranku atau tidak, diraut wajahnya ia tampak senang sehingga ia tak menghiraukan keadaan sekelilingnya. Ia seperti bisa bicara pada mawar-mawar ini, senyumnya sama indahnya dengan mawar putih ini.

“Pria bodoh, sedang apa kau disini” Sunggyu memukul pundakku sehingga aku mulai sadar bahwa aku terlena.

“Ahh tidak ada” jawabku singkat, dengan reflek wajahku mengarah pada wanita tadi. Ia memandangi dengan raut muka heran, namun tak berapa lama ia pun pergi. Aku memandangi setiap langkahnya yang anggun, ia seperti seorang model. Aku hanya menunduk mengenang peristiwa yang membuatku terlena tadi.

“Apa kau sudah menunggu lama?” kata Sunggyu sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku yang tertunduk.

“Tidak, aku baru saja datang. Aku putuskan untuk memotret, hanya sedikit.” Kataku tak beraturan.

“Ki kita jadi jalan-jalan kan hehe” kataku memblokirnya sebelum ada pertanyaan tentang wanita tadi.

*YoonA POV

“Huft sekarang aku mulai lelah” kataku sambil mempercepat langkahku menuju hotel. Ditengah jalanku, ponselku berdering.

“Yeobseyo.”

“Kau habis dari mana saja? Tolong istirahatlah. Besok pagi kau harus datang ke pemotretan.” Perintah orang diseberang sana.

“Baik, aku istirahat sekarang” jawabku. Hampir saja aku menabrak kaca hotel akibat tak menjaga jalanku. Kututup ponselku dan berlali mengejar lift.

SKIP

“Ah kenapa perasaanku seperti ini, ada apa denganku asshh” teriakku sendiri. Aku menyadari ada yang aneh mencambuk perasaanku namun aku sendiri tidak tau apa yang diharapkan perasaanku ini. Tak sengaja pikiranku mengarah ke taman tadi siang.

“Ada apa denganku, keluar saja mencari udara dingin” perintahku sambil membenarkan bajuku. Ku ambil jaket yang tergeletak diatas meja. Jaket ini bisa menutupiku saat kedinginan dan juga menyamarkan baju tidurku. Tak lupa kutaruh ponselku di kantung jaket berjaga-jaga jika Tuan Kim menelponku.

Aku sedikit bergulat dengan kunci kamar ini, entah siapa yang salah tapi aku butuh beberapa kali untuk membuka pintunya. Tepat setelah aku berhasil membuka pintu, pintu sebelah kamarku juga terbuka. Sejenak kami bertatapan, sampai serpihan otakku menyadari bahwa ia adalah orang di taman tadi. Menyadarinya aku bergegas masuk kamar dan mentup pintu, begitu juga orang diseberang sana.

Hatiku masih berdebar-debar bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Namun tanganku sangat ingin membuka pintunya lagi, “ahh tidak boleh. Tidak boleh.” Teriakku pada tanganku yang nakal ini.

Aku hanya berguling-guling di ranjang, mataku tak kunjung terpejam. Kusentuh dadaku, aku sudah tak berdebar-debar, aku menyadari perasaanku kini lebih baik daripada beberapa jam yang lalu.

“Apa kau ingin menemuinya?” tanyaku sambil memegangi dadaku.

*L POV

Sreeekkk …. Sreeekk… suara tirai yang dibuka oleh Sunggyu.

“Hyung, sejak kapan kau disini?” tanyaku malas sambil mengucek mataku, sesekali aku menguap.

“Baru saja, pintunya tidak dikunci kok.” Katanya santai

“Hah, benarkah?” aku menyadari, karena peristiwa tadi malam perasaanku jadi campur aduk sampai tak menghiraukan pintu.

“O iya. Apa kau sudah tau wanita di kamar sebelah?” Tanya Sunggyu bersemangat. Aku langsung terdongak mendengar pertanyaannya itu.

“oh tidak” balasku cepat. Aku pura-pura menguap agar ia tak merasa curiga.

“Benarkah? Kukira kau sudah pernah melihatnya” tambahnya nakal, ia seperti ingin menggali sesuatu dariku namun aku tetap menyembunyikannya.

“Menemui siapa memang, aku tidak keluar kamar setelah pergi denganmu kemarin” jelasku segamblang mungkin.

“Benarkah? Ahh ya sudah kita harus menemui Tuan Kang pagi ini. Cepatlah mandi, kau bau sekali” gertaknya sambil memicingkan mata. Syukurlah ia tak merasa curiga, pikirku.

*L POV END

*YoonA POV

Pagi ini ku awali dengan senyuman, setidaknya fikiran yang mencambukku tadi malam sudah hilang. Kukenakan atasan warna putih serta rok berwarna biru tepat selutut, tak lupa kutambahkan bando dengan hiasan mahkota kecil disalah satu sudutnya. Hari ini tak ada yang istimewa, namun aku ini seorang model mana mungkin aku keluar ruangan hanya memakai kaos dan celana pendek saja. Tas kecilku tak lupa kukaitkan pada pundakku, warnanya yang senada dengan rok ku membuat penampilanku semakin menawan. Sekali lagi aku berkaca memastikan bila ada kotoran yang menempel pada bajuku. Dengan sedikit tawa aku melangkah keluar kamar.

Aku menyadari bahwa aku mendapat sebuah SMS tadi namun aku lupa membukanya, sambil menunggu lift terbuka aku membaca smsnya.

From : Tuan Kim

To : Im Yoona

Tolong ke ST Building jam 9 pagi, kita ada pemotretan

“ahh” aku merintih pelan. Kutaruh lagi ponselku di tas. Aku memasuki lift yang cukup penuh, kira-kira cukup untuk dua orang lagi. Aku tak bisa menolak, aku buru-buru. Saat lift akan tertutup tiba-tiba seorang laki-laki nampak terburu-buru memasuki lift. Bajunya berwarna hitam, warna kulitnya sangat cocok dengan baju itu pikirku. Ia hanya menunduk menatapi lensa kameranya, wajahnya tak begitu jelas namun auranya menandakan bahwa ia sedang khawatir, mungkin ia khawatir dengan kameranya. Dengan kedua  tangannya dan secercah lap lensa berwarna kuning ia sibuk mencari luka di kameranya, ia tersentak kaget saat orang dibelakangnya sedikit menyenggol punggungnya. Sejenak ia menoleh ke belakang, namun dengan cepat ia menoleh ke arahku, sontak aku langsung menunduk. Dalam hati aku teringat seseorang, dari balik poniku ia seperti laki-laki disebelah kamarku. Aku tak kuasa untuk memastikan wajahnya lagi, namun disudut poniku kudapati ia sedang menunduk.

“YoonA POV End”

*L POV

“Ya Tuhan, kenapa aku bisa bertemu dengan dia lagi. Dan kenapa jantungku berdegup seperti ini.” Tanyaku di dalam hati. Dengan reflek tanganku merapikan sedikit poni yang menggelantung karena posisiku yang menunduk. Dengan merapikan bajuku aku terkekeh pelan. “Apa aku benar-benar jatuh cinta?”

6 menit kemudian pintu lift terbuka, seluruh orang dalam lift ini berhamburan keluar. Aku mengambil tempat di pojok untuk memberikan celah lewat dan berharap Gadis Bunga Mawar tadi menungguku. Kakiku tak habis-habisnya gemerutuk hingga orang terakhir keluar, Siall dia sudah keluar sesalku. Ku julurkan lidahku sambil sesekali mengibaskan rambutku, itu sudah menjadi kebiasaanku saat aku merasa tidak puas. Ku benahi lagi tas gendongku dengan kamera yang masih setia bersandar di genggamanku. Di pintu keluar Kak Sunggyu sudah menungguku.

“Kau sudah lama.” Kataku sambil menghampirinya.

“Lumayan.” Katanya tanpa melirikku, ia seperti memandangi seseorang. Aku memandang kea rah yang sama namun tak kudapati orang yang ia maksud.

“k kau sedang memperhatikan siapa?” kataku terbata-bata.

Yak aku bertemu dengan gadis yang ada di sebelah kamarmu” katanya sambil memicingkan mata. Kata-katanya seperti menusuk hatiku, aku tetap tenang agar ia tak curiga.

“Oh memang kenapa?” kataku tak sengaja, aku berpura-pura membenahi lensa kameraku.

“Dia cantik hahahaha. Ayo, aku tak mau terlambat.” Nada tertawanya mengisyaratkan ketertarikan yang tersembunyi. Ingin aku bertanya padanya apakah dia tertarik namun ia buru-buru mengajakku pergi.

“L POV End”

“YoonA POV”

“Anyeonghaseyo” kataku sambil menunduk tatkala melihat Tuan Kim berada di depanku. Ia langsung menyadari kedatanganku dan langsung mempersilahkanku duduk. Aku tak disambut luar biasa, tempat yang kududuki ini bersebelahan langsung dengan ruang make up, dan tentu saja tanpa sekat lagi.

“Maaf tidak menyambutmu terlebih dahulu” kata Tuan Kim menyadari tingkahku yang mengamati setiap senti dari ruangan ini. Mendengar ucapannya aku langsung menghadapnya.

“Bukan masalah” kataku sambil tersenyum.

“Kau sudah menandatangani kontrak, sekarang kau tinggal di foto saja.” Katanya dengan tangan yang sibuk menyeleksi beberapa dokumen.

“Aku tak bisa menungguimu lama-lama, aku ada urusan jadi jika kau selesai di  potret kau bisa langsung pergi.” Tambahnya tanpa basa basi. Aku paling benci saat dia bersikap seperti itu, namun apa boleh buat karena bimbingannya lah aku bisa menjadi model seperti sekarang ini.

“Nona YoonA, boleh kita make up sekarang” kata seseorang padaku.

“Tentu saja. Permisi Tuan Kim.”

“Silahkan.” Katanya tanpa sedikitpun melirikku. Aku langsung beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke tempat make up yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Ku taruh task u didekat meja make up ku. Make Up artis yang menanganiku kali ini belum aku kenal, ia wanita sekitar 24 tahun. Ia menyapaku ramah.

“Silahkan duduk Nona” sapanya

“Terima Kasih”

*SKIP

“Kau sangat cantik Nona, aku tak menyangka kau bisa secantik ini.” Pujinya dengan senyum merekah, aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“Jika kau seperti ini, orang yang memotretmu pun akan jatuh cinta padamu.” Tambahnya lagi.

Aku sedikit tersentak mendengar perkataannya, pikiranku sedikit melayang pada orang yang berada satu lift denganku pagi tadi hingga muncul pikiran bahwa ia juga disini.

“Benarkah?” kataku sambil menyembunyikan sebuah senyuman. Ku tatap jam tanganku untuk menutupi rasa malu. Aku terus tersenyum tidak jelas.

“Ku dengar fotografer kali ini masih muda, dia masih baru.” Katanya sambil membenahi sedikit rambutku.

“Jinjja?”

“Iya, walaupun masih muda ku dengar ia punya banyak penghargaan.” Tambahnya lagi.

“Namun apa bedanya.” Kataku membalas pernyataannya.

“Akan sangat senang jika punya suami yang bisa membantu, kau ini cantik Nona.” Sambungnya dengan nada yang lebih pelan. Aku menangkap sedikit maksudnya, pikiran yang nakal rintihku.

“Apakah sudah selesai?” tanyaku ringan sambil mengahadap cermin didepanku.

“Sudah nona.” Jawabnya sembari mempersilahkanku untuk menuju ruang ganti.

Aku mengambil baju yang sudah disiapkan sebelumnya, dress warna coklat susu dilengkapi renda disekeliling lehernya. Untuk asesoris aku hanya memakai kalung dengan bandul Kristal yang sangat bening sehingga tidak merusak tampilan bajunya, heels setinggi 9 cm berwarna senada dengan baju melengkapi penampilan feminimku kali ini.

Setelah kuamati beberapa saat, aku memantapkan diri dan mulai menuju ruang ganti.

“YoonA POV End”

“L POV”

“Maaf menunggu lama tuan.” Kata Sunggyu sambil menjabat tangan seseorang yang bernama Mr. Kim di jasnya, ia tersenyum ramah, aku mengikuti Sunggyu menjabat tangannya.

“Kami juga masih menunggu model, kurasa dia sudah siap. Tidak terlalu terlambat.” Paparnya, lagi-lagi ia tersenyum ramah.

“Silahkan menuju ruang pemotretan.” Tambahnya lagi dengan gerakan tangan yang mempersilahkan kami masuk lebih dalam ke ruang pemotretan ini.

Ruangan ini sama saja dengan studio pemotretan pada umumnya, namun aneh aku merasa gembira entah apa yang merasuk dalam pikiranku. Aku meyakinkan diri dengan membenahi tasku dan mengangkat kameraku sejajar dada. Dengan menghirup nafas panjang aku melangkah ke tempat pemotretan.

*SKIP

“Kita pemotretan untuk majalah kan?” tanyaku pada Sunggyu yang sibuk mempersiapkan komputernya.

“Iya.” Balasnya pendek.

Aku merapikan kameraku lagi dan mengamati tempat pemotretannya mengamati sudut-sudut yang tepat.

“Aku akan mempersiapkan segala editingnya.” Tambahnya sambil membenahi beberapa kabel yang terhubung di komputernya.

“Oh tentu saja.” Kataku pelan sambil meliriknya. Mataku kembali menjamah kameraku, kubersihkan lensanya takut bila ada debu yang mengganggu pemotretan kali ini. Jujur saja aku sedikit gugup karena baru pertama ini aku memotret untuk majalah, biasanya aku hanya memotret alam.

“kau harus yakin.” Kataku pelan.

Terdengar suara decitan sepatu menghampiri kami, sepertinya ada dua orang. Aku masih menatap pada kameraku mempersiapkan diri. Dengan cepat salah seorang dari kedua orang tadi sudah berada didepan ku tepatnya di tempat pemotretan, aku baru menyadari bahwa dia modelnya.

“Apa kau sudah siap?” kataku spontan sambil mengarahkan pandanganku pada model itu.

Tanganku serasa kaku saat menyadari bahwa orang yang dihadapanku saat ini adalah orang yang sama saat di lift tadi pagi. Aku merasa kikuk namun gembira, aku hampir tidak bisa menahan senyumanku. Aku merasa ada sebuah energi yang mengalir di urat-urat nadiku. Aku menelan ludah, ia terus menatapku dengan tatapan penasaran namun aku dapat menangkap raut wajahnya yang malu.

“Ap apa kau sudah siap?” tanyaku lagi. Ia hanya mengangguk, anggukannya terasa canggung. Aku mencoba sportif karena ini sebuah pekerjaan.

“Ah bukankah Nona yang ada di hotel kemarin.” Sunggyu menyadari bahwa model wanita kali ini pernah ia temui sebelumnya.

“Oh ne.” balasnya pelan dengan mengangguk lagi. Saat menjawab ia tidak melihat Sunggyu, ia malah melihat ke arahku. Aku sangat salah tingkah hingga tak tau harus berbicara apa.

“Bisakah kita mulai sekarang.” Sekarang ia memberanikan diri untuk memulai bicara denganku.

“Ten tentu, maaf kau harus menunggu.” Jawabku spontan. Aku mulai memotretnya, saat ia berbicara denganku ia sangat canggung, namun saat ia mulai berpose ia sangat sportif sungguh super model.

Kameraku tak henti-hentinya menagkap segala posenya yang menawan, sekali lagi aku mendapatkan senyuman yang sama saat berada di taman bunga mawar. Bolehkah aku memanggilmu gadis bunga mawar?

*SKIP

“Apa kalian sudah selesai?” Tanya seorang staff disini.

“Sudah.”  Kata Sunggyu setelah memperlihatkan hasil jepretanku pada Gadis Bunga Mawar ini. Sejak tadi aku selalu mengamati raut wajahnya berharap ia akan menyapaku dengan kata-kata yang lebih santai. Sesekali aku menjulurkan lidah, rasanya seluruh kekuatan dalam tubuhku ingin bertanya namun rasa canggungku lebih kuat, aku sangat benci itu.

“Baiklah, kalian boleh makan siang.”

“Terima kasih.” balas Sunggyu cepat.

“Nona, apa kau ingin makan siang?” Tanya sunggyu saat menyadari Gadis Bunga Mawar ini hanya terpaku pada layar computer, tampaknya Sunggyu ingin berteman dengannya.

“Um, tentu saja.  Aku mau ganti baju dulu.” Balasnya tanpa ada setipispun senyuman. Tiba-tiba ponsel Sunggyu berdering, kami hanya memandanginya dengan tatapan heran.

“Ya Tuhan, ibuku menelpon. Ah Umma, ada apa?” katanya dengan nada yang sedikit berteriak.

“Aku sedang bekerja, tenang saja besok aku akan pulang.” Tambahnya, kali ini nadanya sedikit pelan. Ia menutupi mulutnya dengan satu tangan, tampaknya ia malu pada Gadis Bunga Mawar ini. Si Gadis Bunga Mawar  hanya menatapnya dengan tatapan heran, ia tak berpindah satu jengkalpun padahal ia bilang ia akan ganti baju.

“Baiklah, aku akan belikan sekarang.” Kata Sunggyu setelah beberapa saat mendengar kata-kata dari teleponnya.

“Ah arrasseo, aku tak akan lupa.” prakk, tambahnya lagi sambil menutup ponselnya kasar.

“Ah maaf Myusoo-ahh, aku tak bisa menemanimu pulang. Aku harus membelikan pesanan ibuku dulu. Kau bisa makan siang sendiri kan?”tanyanya padaku dengan raut muka yang sedikit kecewa.

“Ah gwenchanayo, bukankah kau sering seperti itu.” Aku membalasnya dengan sedikit senyuman. Aku melirik Si Gadis Bunga Mawar sepintas, lalu aku menatap Sunggyu lagi.

“Kuharap kau tidak kelaparan.” Tangan Sunggyu yang cukup besar menepuk-nepuk pundakku. Dengan memicingkan mata ia langsung pergi.

Sekarang tinggal kami berdua, ia tetap saja ditempat itu tanpa beranjak sedikitpun. Aku mengambil nafas dan memulai bertanya.

“Bukankah kau ingin makan siang?” tanyaku memberanikan diri.

“Oh, tentu saja hemm.” Ia sedikit kaget dengan pertanyaanku. Dan sekarang ia tersenyum.

“Aku ganti baju dulu, kau tunggu saja disini.” Katanya mendahuluiku. Ia langsung berlari menuju ruang ganti. Aku langsung berfikir, apakah dia menyukai ajakanku? Ahh omong kosong, aku terkekeh pelan.

“L POV End”

“YoonA POV”

“Omona, dia benar-benar laki-laki itu. Apakah ini sebuah keberuntungan.” Aku memegangi pipiku, tanganku terasa dingin. Aku menarik nafas dalam-dalam, aku mulai tersenyum tidak jelas.

Ku ganti bajuku seperti tadi pagi. Kurapikan lagi rambutku yang sebenarnya masih rapi, aku mengamati riasanku lagi. Dengan sedikit memanyunkan bibir aku memeriksa lipstikku, aku sudah siap bertemu dengannya. Hahahaha aku tertawa pelan.

Aku keluar dari kamar ganti, ia masih menungguku di tempat yang sama. Sekarang ia duduk dan tetap mengamati kameranya, ia sangat keren mengenakan baju itu meskipun aku sudah memujinya tadi pagi.

“Maaf, apakah aku mengganggumu.” Tanyaku agak ragu, aku menggigit sedikit ujung  bibirku. Aku takut ia merasa terganggu.

“Ah tidak, aku menunggumu. Apa kita pergi sekarang?” tanyanya dengan tersenyum. Hatiku terasa tersentak, senyumnya sangat menawan.

“Tentu.” Balasku pendek, aku mengetahui tangannya yang mencoba meraih tanganku namun dengan cepat ia meraihnya kembali, nampaknya ia salah tingkah.

“Hemm.” Aku mencoba tersenyum.

“Kau boleh berjalan duluan.” Ia mempersilahkanku berjalan didepannya, sangat berkarisma pikirku.

*YoonA POV End

*SKIP

*L POV

*Di Café

“Pelayan.” Aku mengangkat tanganku pada seorang pelayan perempuan yang berada didekat pintu. Ia berjalan ke arah kami.

“Ada yang bisa saya bantu.” Katanya dengan sopan sambari meyodorkan kami daftar menu. Aku menatap Si Gadis Bunga Mawar sekilas, ia tampak sibuk memilih makanan. Ia sangat menawan disaat apapun, bahkan saat memesan makanan.

“Aku ingin cappuccino dan waffle saja.” Kataku pada pelayan.

“Aku juga.” Kata Si Gadis Bunga Mawar. Ia sedikit menoleh padaku namun dengan cepat ia menatap daftar menu lagi, apa dia malu pikirku.

“Baiklah, jika kalian memesan menu yang sama kita bisa membuatkan paket yang special untuk pasangan.” Kata pelayan itu dengan ramah.

“Kami bukan pasangan.” Kami berbarengan bicara, kata-kata kami sedikit membuat pelayan ini kaget ia segera menarik ucapannya.

“Maaf jika saya salah kata.” Ia menunduk.

“Tidak apa.” Kata kami lagi dengan berbarengan. Kami saling pandang, segera kami menatap daftar menu lagi. Kali ini kami benar-benar salah tingkah.

“Baiklah, saya akan mempersiapkan pesanan anda.” kata pelayan itu lagi sambil meninggalkan kami.

Kami tetap menatap daftar menu dengan tatapan kosong, aku memberanikan diri untuk menatapnya.

“Siapakah namamu?” tanyaku tanpa basa-basi lagi. Ia tersentak dengan pertanyaanku, ia terdiam namun segera membalas pertanyaanku dengan manis.

“Im YoonA” sekali lagi ia tersenyum.

“Lalu namamu?” lagi-lagi ia mendahului pertanyaanku.

“Kim Myungsoo. Ah, jadi kau seorang model?” tanyaku lebih akrab.

“Ya, aku sudah 2 tahun jadi model.” Ia juga membalas pertanyaanku dengan lebih akrab.

“Benarkah? Aku juga sudah memotret 2 tahun, namun baru pertama kali ini aku memotret seorang wanita.” Aku sedikit malu mengatakannya, ia tetap membalasku dengan akrab.

“Wah jadi aku wanita pertama yang kau foto.” Ia sedikit bergurau.

“Boleh jadi begitu, biasanya aku memotret keindahan alam tapi sekarang aku memotret untuk majalah.” Aku mulai merasa nyaman berbicara padanya, kurasa ia juga begitu ia tak sungkan untuk tersenyum kepadaku.

Pelayan datang membawa pesanan kami, diatas nampan itu ada 2 cangkir cappuccino dan dua waffle serta ada semangkuk Ice Cream dengan hiasan bertuliskan “Friends”.

“Apa ini?” kataku saat pelayan menurunkan hidangan yang terakhir yaitu Ice Cream.

“Kami punya bonus untuk anda karena sudah memesan hidangan yang sama, namun karena anda bukan pasangan jadi kami menuliskan kata teman disana.” Kata pelayan itu dengan ramah.

“Terima Kasih, saya sangat senang.” kata Si Gadis Bunga Mawar ditengah kebingunganku.

“Seharusnya kau berterima kasih.” Tambahnya lagi dengan nada sedikit sebal.

“Selamat menikmati.” Tutup pelayan itu lalu ia pergi.

“Aku tak pernah menyia-nyiakan bonus.” Katanya dengan nada berbisik. Ia mulai melahap wafflenya, ia sangat kelaparan. Aku hanya minum cappuccino saja.

“Ehm, bolehkah aku memanggilmu YoonA?” kataku.

“Memang namaku YoonA.” Balasnya ringan tanpa meninggalkan wafflenya.

“Maksudku apakah aku boleh memanggil YoonA sebagai seoarang teman?” tanyaku memperjelas lagi.

“Uhuukkk …. Maaf aku terlalu kelaparan.” Ia langsung mencomot cangkir cappuccinonya, apakah dia memang tersedak atau kaget mendengar kata-kataku.

“Ah, maaf YoonA.” Kataku, aku mencoba memberikan tisu padanya ia menyambar dengan cepat.

“Ah tidak apa-apa sudah ku bilang aku terlalu kelaparan. Kau boleh memanggilku YoonA sebagai temanmu, aku suka.” Balasnya dengan senyuman yang selalu membuatku terpesona.

“Benarkah? Jadi mulai sekarang kita berteman?” tanyaku lagi.

“Belum.”

“Wae?” balasku cepat.

“Kita belum memakan Es Krimnya hahaha.” Kali ini ia benar-benar tersenyum. Guratan tawanya sungguh jelas memamerkan gigi-giginya yang putih dan rapi.

“Begitukah? Boleh aku menyendok duluan.” Aku langsung menyambarIce Cream yang sempat membuatku bingung tadi, tulisan Friends nya sudah tidak lengkap lagi. Ia tak mau kalah, ia juga menyendok Ice Cream yang sama, Ice Cream rasa Vanilla ini sungguh enak mungkin karena suasana hatiku yang secerah Vanilla.

“Kau suka Es Krim?” tanyaku lagi sambil menyendok Es Krim.

“Tentu saja hehehe.” Aku menatap matanya yang bulat, ia tampak senang. Sejak bersamaku ia selalu tertawa, dia sangat menyenangkan.

*SKIP

Semua makanan kami sudah habis, kami berniat pulang setelah membayar.

“YoonA, kapan kau akan kembali ke Seoul? Kau bilang rumahmu disana kan?” tanyaku, aku berharap ia bisa pulang bersamaku besok.

“Besok.” Jawabnya singkat.

“Benarkah? Kalau begitu kita bisa bersama. Aku juga kembali ke Seoul besok.” Tambahku dengan senyum sumringah.

“Baiklah jika itu maumu. Aku tidak mau menunggu seperti di taman beberapa waktu lalu.” Ia sedikit menyipitkan mata, aku bersyukur ia mengingat pertemuan pertama kita.

“Aku tak pernah membiarkan wanita menunggu.” Balasku dengan senyum nakal, ia memukul ringan pundakku. Tampaknya ia senang bergurau.

*SKIP

Pagi ini aku sudah bersiap di Ruang Tamu Hotel, tentu saja untuk menunggu YoonA. Baru sepuluh menit aku disini tetapi aku sudah memikirkan wajahnya, biasanya aku tak se semangat ini saat menunggu Sunggyu tapi karena saat ini aku menunggu wanita aku jadi tidak sabaran.

“Hai apa sudah lama?” sapa YoonA yang berjarak 15 meter dariku.

“Belum. Aku baru saja duduk hehe.”

“Baiklah, ayo. Eh,apa kau tidak menunggu temanmu?” ia teringat akan temanku yang biasa bersamaku.

“Dia sudah ada di bandara, mungkin dia pulang duluan. Eomma nya sangat cerewet.” Balasku pada YoonA.

“Kurasa juga begitu. Baiklah ayo kita pergi.” Ia tersenyum lagi, kali ini aku merasa kita sudah kenal lama. Seperti kemarin, aku mempersilahkan ia berjalan didepanku. Ia membalasku dengan senyuman. Jika biasanya aku memegang kamera di tangan kananku, kini ponsel lah yang ku genggam tentu karena aku ingin menghubunginya saat kita tidak bertemu. Meskipun aku sudah mengetahui namanya adalah YoonA tetapi aku tetap saja menulis Gadis Bunga Mawar sebagai pengganti namanya di ponselku.

Mohon Kritik dan Sarannya.

Kalau malu-malu komen disini bisa kirim email ke astriadhima@yahoo.com

Khamsahamnida !!! ^0^

Leave Your Review Here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s